Education

BISNIS PLANE



Ayam Kampung  (Ayam Potong, Telor dan DOC)
Desa Tigaherang Kecamatan Rajadesa Kabupaten Ciamis 46251
Tlp. 085220633114, 08977716566

Disusun Oleh:
H    A    S    A    N

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS GALUH
CIAMIS
2014



PENGANTAR
Project proposal tentang pengembangan usaha peternakan ayam kampung,  yang akan dilaksanakan di Desa Tigaherang Kecamatan Rajadesa di Kabupaten Ciamis Propinsi Jawa Barat oleh CV. Poetra Galoeh.
Total investasi proyek yang dibutuhkan adalah sebesar Rp. 70.640.309,25 (Tujuh Puluh Juta enam ratus empat uluh ribu tigaratus sembilan koma dua lima  Rupiah), dimohonkan kepada penyandang dana atau Bank untuk mendapatkan pinjaman dana bagi terlaksananya proyek tersebut di atas.
Uraian tentang proyek secara terperinci kami cantumkan dalam project ini. Perihal lainnya yang diperlukan yang tidak tercantum dalam project proposal ini bila diperlukan akan disampaikan kemudian, baik dari bidang keuangan maupun bukan bidang keuangan.
Proyek pengembangan peternakan ayam kampung ini telah dinilai layak dan memungkinkan untuk dilaksanakan oleh CV. Poetra Galoeh, berdasarkan evaluasi dan analisis dalam Project Proposal ini.



Ciamis,    Juli 2013
CV. Poetra Galoeh



Hasan
Direktur Utama








DAFTAR ISI
Pengantar
Daftar Isi
I.               Latar Belakang Perusahaan
II.            Aspek Pemasaran
1.        Permintaan Pasar
2.        Pembeli dan Harga Jual
3.        Kualitas Produksi
III.          Aspek Produksi
IV.         Aspek Personalia
V.            Aspek Pelaksanaan Proyek
1.        Lokasi Proyek
2.        Jalan Masuk Lokasi Proyek
3.        Topografi
4.        Sumber Air
5.        Jadwal Pelaksanaan
VI.         Aspek Keuangan
§   Pinjaman Dana
§   Total Investasi
.1         Break Down Total Investasi
.2         Finansial time schedule
§   Analisis Keuangan
.1         Analisis Proffitabilitas
.2         Analisis Cash Flow Projection
.3         Analisis present Worth
.4         Analisis Payback Period
.5         Analisis Sensitifitas
§   Break Down Aspek Keuangan
VII.       Aspek Dampak Sosial dan Lingkungan
1.        Aspek Dampak Sosial
2.        Aspek Dampak Lingkungan
VIII.    Lampiran


BAB I
LATAR BELAKANG PERUSAHAAN
1.        IDENTITAS PERUSAHAAN
1.1     Nama Perusahaan      : CV. Poetra Galoeh
1.2     Nama Pendek                        : CV. Poegal
2.        BIDANG USAHA
Perusahaan bergerak dalam bidang perdagangan prodak ayam kampung, dengan jenis barang Ayam Potong, Telor ayam, DOC.
3.        PERIJINAN PERUSAHAAN
3.1     Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP)  : 
3.2     Surat Ijin Usaha Perdagangan (SIUP) : 
3.3     Tanda Daftar Perusahaan (TDP)        : 
4.        ALAMAT PERUSAHAAN
4.1
Alamat Kantor
:
Dusun Desa RT. 013 RW. 003 Desa Tigaherang Kecamatan Rajdesa Kabupaten Ciamis Profinsi Jawa Barat.
4.2
No. Telepon
:
085 220 633 114
4.3
Email Addres
:
hasan_5t@yahoo.co.id
5.        PENGELOLA PERUSAHAAN
5.1     Dewan Komisris
5.1.1        Komisaris Utama       : Haris
5.1.2        Komisaris                  : Anang Sunandar
5.2     Dewan Direksi
5.2.1        Direktur Utama          : Hasan
5.2.2        Wakil Direktur           : Agus R









BAB II
ASPEK PEMASARAN


2.1    AYAM KAMPUNG
Ayam kampung adalah sebutan di Indonesia bagi ayam peliharaan yang tidak ditangani dengan cara budidaya massal komersial serta tidak berasal-usul dari galur atau ras yang dihasilkan untuk kepentingan komersial tersebut.Ayam kampung tidak memiliki istilah ayam kampung petelur ataupun pedaging. Hal ini disebabkan ayam kampung bertelur sebagaimana halnya bangsa unggas dan mempunyai daging selayaknya hewan pada umumnya. Nama ilmiah untuk ayam kampung adalah Gallus domesticus. Aktifitas penternakan ayam kampung telah ada sejak jaman dahulu.
2.1.1   PERMINTAAN PASAR
Agrobisnis seperti sumur yang tak pernah kering. Ini bukan omong kosong. ketika industri lain ambruk diterjang badai krisis moneter, sektor ini terbukti tetap tegar.
Dibidang peternakan, misalnya, usaha ayam ras(ayam pedaging) langsung terkapar ketika krisis berlangsung. Maklum ayam jenis ini banyak menelan dollar, mulai dari bibit, bahan baku pakan, obat-obatan hingga peralatan.
Lain cerita kalau yang diternakan ayam kampung atau ayam buras(bukan ras) yang 100 % asli Indonesia. Menurut data Ditjen Peternakan, tahun 1998 populasi ayam kampung mengalami peningkatan sekitar 1 % dibanding tahun sebelumnya, jauh berbeda dengan ayam ras yang anjlok sampai 70 %.
Produksi telur ayam ras (leghorn) petelur misalnya bisa mencapai 300 butir setahun. Sementara ayam kampung yang dipelihara secara khusus paling banter hanya 100 butir telur. Begitu juga dengan ayam ras pedaging (broiler). Tubuhnya cepat bongsor, dalam 30 hari bisa mencapai 1 kg. Sementara ayam kampung membutuhkan 3 bulan untuk mencapai bobot hidup yang sama . Hanya saja harga daging dan telur ayam kampung lebih tinggi, itu kelebihannya.
Permintaan ayam kampung asli dari tahun ke tahun semakin meningkat di hampir seluruh Indonesia. Diutarakan Ketua Umum Himpuli (Himpunan Peternak Unggas Lokal Indonesia), permintaan  ayam kampung terus meningkat setiap tahun, terutama diretail modern(toko swalayan).“Saat ini permintaan  ayam kampung nasional kira-kira mencapai 300 ribu ekor per bulan dengan harga jual dikisaran Rp 45.000 – 50.000 per ekor,” ujar Ketum Himpuli dalam Trobos Livestock.
Terus meningkatnya permintaan tersebut ternyata belum diimbangi dengan suplai  ayam kampung yang memadai. Alhasil, menurut Ketum Himpuli , pihak retail mendapat pasokan   non ayam kampung yang dijual sebagai produk  ayam kampung. Fakta ini mulai ditemui Himpuli sejak 2009, di sejumlah supermarket sekitar Jabodetabek (Jakarta Bogor Depok Tanggerang Bekasi). “Padahal yang dijual itu adalah ayam pejantan, ayam arab, atau ayam kampung persilangan,”
Lalu dari temuan tersebut,cerita Ketum Himpuli ,Himpuli melayangkan surat kepada menteri perdagangan dan menteri pertanian, menginformasikan bahwa sebagian  ayam kampung yang ada di supermarket itu bukanlah ayam kampung asli. “Himpuli mendapat dukungan dari dua kementerian tersebut untuk mengatasi kebohongan publik dalam pemasaran  ayam kampung di retail modern,” terangnya.
Atas dasar hal tersebutlah saya ingin menghidupkan kembali usaha bisnis dalam bidang budidaya Ayam kampong, agar bisa lebih berkualitas dan berdaya saing dengan usaha ayam-ayam lainnya.
2.1.2   PEMBELI DAN HARGA JUAL
Dalam pemasaran ayam kampong ini banyak jalan yang bias kita lalui Koperasi Peternak ayam kampong lokal, regional, nasional bahkan bisa Internasional, yang penting kita harus bisa membuat sebuah produk ayam kampong yang berkualitas dan mempunyai setandar kesehatan. Pembeli di bagi kedalam dua kategori diantaranya:
a.      Produk konsumsi, yaitu produk yang dibeli dan digunakan oleh konsumen akhir (pemakai akhir);
b.      Produk industri, yaitu produk yang biasa dibeli oleh pelaku usaha produksi lainnya (Pedagang daging ayam, Rumah makan, industry berbahan telur dan daging, juga peternak lainnya).
Dalam usaha ayam kampong ini tidak hanya ayam yang siap potong aja yang dijadikan aspek usahanya, akan tetapi bisa di kembangkan pula sebagai bisnis terpadu. Yang artinya, selain Ayam kampong siap potong, juga anak ayam, dan telurnya. Nilai harga jual ayam kampung lebih tinggi dibandingkan dengan ayam broiler, harga berkisar antara 19rb-23rb menurut riset pasar selama tahun 2010-2011 dan Rp 45.000 – 50.000 per ekor menurut Himpuli. Penentu harga ayam kampung tetap mengikuti kaidah hukum ekonomi yaitu keadaan pasar, penawaran dan permintaan.
Spesifikasi harga jual rencana produksi ayam kampung:
No
Jenis Produk
Satuan
Vol.
Harga Jual/Satuan
Konsumsi
Industri
1
Ayam Potong
kg
1
Rp. 36.500,-
Rp. 35.500,-
2
Telor ayam
kg
1
Rp. 1.200,-
Rp. 1.050,-
3
Ayam DOC
bh
1
Rp. 2.950,-
Rp. 2.200,-

2.1.3   KUALITAS PRODUKSI
Kualitas ayam kampong ini ada yang mengatakan ayam kampung ekstensif dan intensifikasi, padahal dari hasil pengujian tidak ada perbedaan. Akan tetapi, menurut Flora Chrisantie, Ketua Departemen Kebijakan Publlik & Legal, Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) menjelaskan, selama ini pengklasifikasian  ayam kampung di retail modern berdasarkan kualitas, berat, serta cara pemeliharaan ayam kampung tersebut yaitu kampung biasa atau organik. “Untuk standar kualitas pihak retail berdasarkan kualitas fisik dan hasil laboratorium,” terangnya.
Ciri-ciri atau setandarisasi ayam kampung asli, sebenarnya sudah pernah dibicarakan antara Himpuli dengan Direktorat Kesehatan Masyarakat Veteriner, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan sejak 4 tahun lalu, dalam rangka membuat standarisasi  ayam kampung. Akan tetapi pada saat ini belum ada SNI (Standar Nasional Indonesia) untuk  ayam kampung, yang bisa dijadikan acuan pihak retail dan konsumen dalam hal spesifikasi dan parameter kategori ayam kampung yang asli dan bermutu
2.1.4   ALUR DISTRIBUSI PEMASARAN

BAB III
ASPEK PRODUKSI
Produksi ayam kampong ini terdiri dari 3 (tiga) produk yang akan dicapai. Yaitu, Ayam siap potong, telur ayam kampung dan DOC ayam kampong. Dalam pelaksanaannya memang agak menyulitkan dan membingungkan, akan tetapi apabila terpogram dan teratur akan bisa lebih maksimal lagi dalam mencapai hasil. Di bawah ini dijelaskan dalam table mengenai rencana produksi;
3.1    FASILITAS SARANA DAN PRASARANA POKOK
3.1.1   Kandang Ayam
1.    Kandang ayam kampong siap potong
Untuk kandang ini dibutuhkan 6x10 meter atau seluas 60 meter2 untuk menampung sekitar 150 ekor ayam kampong dewasa, yang mana bawahnya terbuat dari sekam yang dilapisi oleh kapur
2.    Kandang Ayam untuk ditelurkan.
kandang yang terpisah dengan sekat dari kandang ayam siap potong, dengan luasan 64 m2 muat untuk menampung sekitar 150 betina dan 10 jantan, alas kandang kira-kira 40 cm dari tanah, agar tetap kering dan mudah membersihkan kotoran. Kandang diarahkan ke timur, dan dinding depan dibuat dari bambu belah dengan jarak kira-kira 3 cm, agar cahaya matahari pagi dapat masuk ke kandang. Tempat bertelur, buatlah dari kotak yang alasnya diberi jerami. Sediakan tempat untuk bertengger dari kayu atau bamboo.
3.    Kandang ayam DOC
lebar kandang antara 5x11 m dengan luasan 55 m2 yang mampu memuat sekitar 1.800 ekor DOC ayam kampong. Yang perlu mendapat perhatian adalah daya tampung atau kapasitas kandang. Tiap meter persegi sebaiknya diisi antara 45-55 ekor DOC ayam kampung sampai umur 2 minggu, kemudian jumlahnya dikurangi sesuai dengan bertambahnya umur ayam.
Bentuk kandang yang dianjurkan adalah bentuk postal dengan lantai yang dilapisi litter yang terdiri dari campuran sekam, serbuk gergaji dan kapur setebal ± 15 cm. Model atap monitor yang terdiri dari dua sisi dengan bagian puncaknya ada lubang sebagai ventilasi dan bahan atap menggunakan genteng atau asbes.
Pemeliharaan ayam kampung di bagi dalam dua fase yaitu fase starter (umur 1-4 minggu) dan fase finisher (umur 5-8 minggu). Pada fase starter biasanya digunakan kandang bok (dengan pemanas) bisa bok khusus atau juga kandang postal yang diberi pagar. Suhu dalam kandang bok biasanya berkisar antara 30-32°C. Pada fase finisher digunakan kandang ren atau postal seperti model pemeliharaan ayam broiler.

3.1.2   Bangunan dan Perlengkapan lainnya
a)      1 Unit Gudang, yang dipergunakan  menyimpan perlengkapan, dan kebutuhan yang berkaitan dengan peternakan ayam kampong.
b)      Perlengkapan yang dipergunakan secara langsung
-          Mesin penetas
Untuk media penetasan telor menjadi DOC, yang mana ini dibeli langsung dari si pengrajin mesin penetas yang berkapasitas sekitar 1.000 penetasan agar lebih epektif di banding dengan di erami induknya agar mengurangi adanya kerusakan telur yang di akibatkan oleh si induk DOC.
-          Box, digunakan untuk perawatan dimana ayam masih ada dalam  fase starter (umur 1-4 minggu)
-          Lampu dan perangkat instalasi listrik (penerangan dan pengaturan suhu)
-          Skop, Cangkul dll. (alat untuk pembersihan yang bersifat mengeruk)
-          Tempat pakan ternak (dibutuhkan sekitar 75 buah)
-          Tempat air minum (dibutuhkan sekitar 75 buah)
-          Ember (12 buah)
-          Kiloan, untuk menimbang dalam proses penjualan yang sipatnya produk konsumsi
-          Sarana pengairan, dalam hal ini sarana yang dipergunakan untuk pengarian diantaranya adalah pompa air, selang air, pipa air, dan juga keran air.
-          Pagar area peternakan, ( yang mana difungsikan agar area tersebut tidak terjamah oleh binatang pemangsa dan tidak mengganggu lingkungan sekitar).
3.1.3        Bibit Ternak Ayam Kampung
Seperti di jelaskan di atas, bahwa produksi ini terdiri dari 3 (tiga) unsure, yaitu Ayam kampong potong, telur ayam kampong, dan DOC ayam kampong. Dalam proses awalnya dibutuhkan 400 ekor bibit ayam potong yang sudah memiliki nilai jual ± Rp. 4.500,-,untuk produksi telur ayam kampong dibutuhkan sekitar 100 ekor ayam betina dengan harga ± Rp. 50.000,- dan ayam jantannya 10 ekor dengan harga  ± Rp. 65.000,-. Dan DOC ayam kampong akan diproduksi setelah ada induk ayam betina yang bertelur.
Proses panen akan dilakukan dalam tempo 3 (empat) bulan sekali akan tetapi tiap minggupun tidak menutup kemungkinan ada hasil. Dan untuk 3 bulan kedepan setelah panen kiat tidak membeli bibit untuk ayam kampong potongnya, tapi kita lebih memilih untuk membesarkan kembali DOC dan induk untuk ayam kampong petelurnya itu dari ayam kampong yang sudah berusia 5-6 bulanan dari sisa ayam kampong potong. Sehingga untuk bibit kita hanya keluar satu kali periode yaitu 3 (empat) bualn pertama. Se ekor ayam betina bisa bertelur dalam setahun sebanyak 160 butir, jadi kalau 3 bulan kisaran 40 butir telur. Dari proses penetasan bisa terjadi kegagalan sebesar 15%  dan dari DOC ke ayam dewasa terjadi 15 % kegagalan karena anak ayam tidak bisa bertahan hidup. Bila usianya sudah 4-6 minggu 5%-10% factor kegagalan yang akan terjadi.
3.1.4        Pakan Ternak
Vaksin
1 – 3 hari Strain F Tetes mata
3 minggu Strain F Tetes mata
3 bulan Strain K Suntikan
Diulang setiap Strain K Suntikan 3 bulan sekali
Kebutuhan Vaksin untuk 100 ayam kampong selama 4 bulan adalah 100 x Rp. 200,- x 3 = Rp. 60.000,-
Pakan
Kita ketahui bersama bahwa pakan mempunyai kontribusi sebesar 30% dalam keberhasilan suatu usaha. Pakan untuk ayam kampung pedaging sebenarnya sangat fleksibel dan tidak serumit kalau kita beternak ayam pedaging, petelur atau puyuh sekalipun. Bahan pakan yang bisa diberikan antara lain : konsentrat, dedak, jagung, pakan alternatif seperti sisa dapur/warung, roti BS, mie instant remuk, bihun BS, dan lain sebagainya. Yang terpenting dalam menyusun atau memberikan ransum adalah kita tetap memperhatikan kebutuhan nutrisi ayam kampung yaitu protein kasar (PK) sebesar 12% dan energi metabolis (EM) sebesar 2500 Kkal/kg.
Jumlah pakan yang diberikan sesuai tingkatan umur adalah sebagai berikut :
·       7 gram/per hari sampai umur 1 minggu
·       19 gram/per hari sampai umur 2 minggu
·       34 gram/per hari sampai umur 3 minggu
·       47 gram/per hari sampai umur 4 minggu
·       58 gram/per hari sampai umur 5 minggu
·       66 gram/per hari sampai umur 6 minggu
·       72 gram/per hari sampai umur 7 minggu
·       74 gram/per hari sampai umur 8 minggu
Kebutuhan pakan untuk seratus pemeliharaan ayam kampong yaitu:
Starter1  120 kg @ Rp. 2.824,5/kg dan
Starter2  180 kg



BAB IV
ASPEK PERSONALIA
Adanya pengembangan usaha ayam kampong ini akan menjadi sebuah lapangan kerja baru bagi masyarakat setempat, dan sedikit banyak pasti membutuhkan tenaga kerja. Tenaga kerja pada tahap pertama diperlukan sebanyak 4 (empat) orang, yaitu antara lain :
.1        KOORDINATOR LAPANGAN
§   Koordinator bertanggungjawab atas seluruh proses produksi.
§   Jumlah koordinator sebanyak 1 (satu) orang.
§   Memiliki pendidikan dan pengalaman dalam perikanan khususnya budidaya ikan gabus.
§   Untuk tahun pertama honor koordinator perikanan per bulan adalah sebesar Rp 725.000,00.
.2        KARYAWAN BUDIDAYA
§   Karyawan bertanggungjawab dalam melaksanakan seluruh proses budidaya.
§   Jumlah karyawan yang dibutuhkan sebanyak 2 (dua) orang
§   Honor setiap karyawan perikanan per bulannya adalah sebesar Rp 600.000,00
.3      KARYAWAN DISTRIBUTOR
§   Karyawan bertanggungjawab dalam melaksanakan seluruh proses budidaya.
§   Jumlah karyawan yang dibutuhkan sebanyak 1 (satu) orang
§   Honor setiap karyawan perikanan per bulannya adalah sebesar Rp 650.000,00

Sebelum karyawan dapat bekerja untuk melaksanakan tugas sehari-harinya, perusahaan memberikan pelatihan singkat serta pengarahan tentang kebijaksanaan perusahaan serta proses dan hasil produksi Ayam Kampung.










BAB V
ASPEK PELAKSANAAN PROYEK

5.1    LOKASI PROYEK
Proyek akan dilaksanakan di Desa Tigaherang, Kecamatan Rajadesa, Kabupaten Ciamis, Provinsi Jawa Barat. Lahan yang digunakan adalah pekarangan rumah pemilik perusahaan sendiri, yang telah dinilai layak untuk digunakan sebagai tempat usaha ayam kampung.
5.2    JALAN MASUK LOKASI PROYEK
Jalan masuk ke lokasi proyek berbatu dan hanya bisa masuk kendaraan bermotor saja, jarak kejalan beraspal sekitar 100 m. jarak antara lokasi perusahaan dengan konsumen ada yang berkisar 3 Km s.d. tak terhingga.
5.3    TOPOGRAFI
Lokasi tempat usaha berada di lahan yang datar dan berada di area 30 sampai 50 meter di atas permukaan air laut.
5.4    SUMBER AIR
Sumber air untuk keperluan peternakan ayam kampong ini tidak begitu melimpah, akan tetapi sudah ada sumur sumber air bor yang bisa lebih mencukupi untuk kebutuhan peternakan ayam kampong ini.
5.5    JADWAL PELAKSANAAN
Rencana jadwal pelaksanaan usaha peternakan ayam kampus yang akan dilaksanakan oleh CV. Poetra Galoeh akan di sajikan pada table jadwal pelaksanaan.








BAB IV
ASPEK KEUANGAN
6.1    PINJAMAN DANA
Ƙ  Nilai total pinjaman dana         : Rp  70.000.000
Ƙ  Bunga pinjaman per tahun       : 15 % p.a
Ƙ  Lama masa pinjaman               : 2 Tahun
Ƙ  Grace Period                            : 3 Bulan
Ƙ  Dana Pribadi                            : Rp 15.000.000,00
6.2    TOTAL INVESTAI







1
Bangunan dan peralatan

 Rp                                                35.850.000,00


Bangunan

 Rp                       22.100.000,00



Kandang ayam + box
 Rp       95.000,00
 Rp     17.100.000,00




Gudang peternakan
 Rp                      -  
 Rp                            -  




mesin penetas
 Rp 5.000.000,00
 Rp       5.000.000,00




Peralatan

 Rp                       13.750.000,00



Peralatan Kantor
 Rp 1.250.000,00
 Rp       1.250.000,00




Peralatan peternakan
 Rp 3.500.000,00
 Rp       3.500.000,00




peralatan lainnya
 Rp 9.000.000,00
 Rp       9.000.000,00



2
Modal kerja dan biaya oprasional

 Rp                                                31.426.485,00


modal kerja

 Rp                       27.426.485,00

 Rp            23.476.485,00

bibit ayam

 Rp                         7.950.000,00



a. ayam kampung potong
 Rp         4.500,00
 Rp       1.800.000,00




b. ayam kampung telur betina
 Rp       55.000,00
 Rp       5.500.000,00




c. ayam kampung telur jantan
 Rp       65.000,00
 Rp           650.000,00




pakan ternak
 Rp     987.350,00
 Rp       5.035.485,00




vaksin
 Rp     160.000,00
 Rp           816.000,00




Tenaga Kerja






a. Koordinator lapangan
 Rp 2.175.000,00
 Rp       2.175.000,00




b. Karyawan budidaya
 Rp 1.800.000,00
 Rp       3.600.000,00




c. Karyawan distributor
 Rp 1.950.000,00
 Rp       1.950.000,00




Listrik
 Rp     125.000,00
 Rp           500.000,00




Biaya Transfort
 Rp 1.200.000,00
 Rp       4.800.000,00




Biaya pemeliharaan mesin penetasan
 Rp     150.000,00
 Rp           600.000,00




biaya oprasional
 Rp 1.000.000,00
 Rp       4.000.000,00




TOTAL 1+ 2

 Rp                                                67.276.485,00

3
Contingencies (5% dari 1+2)

 Rp                                                  3.363.824,25


TOTAL INVESTASI

 Rp                                                70.640.309,25

6.3    ANALISA KEUANGAN
6.3.1   ANALISA PROBABILITAS
Secara Ratio historis, maka baik Net Profit Margin  maupun Operating Profit Margin mengalami kenaikan masing-masing rata-rata sebesar   7,21 % dari tahun pertam samapai tahun ke tiga. hal ini secara langsung menunjukan keuntungan yang terus meningkat. Walaupun pada tahun ke dua mengalami penurunan Profit margin, akan tetapi itu masih dalam toleransi, yang mana penurunannya sebesar 19,21% dari tahun pertama, dikarenakan modal bank sudah dikemablikan, dan  pada tahun kedua ini sudah menggunakan moodal pribadi sepenuhnya. Sehingga di tahun ke tiga mengalami peningkatan yang cukup signifikan dikarenakan beban pinjaman yang diperoleh dari Bank sudah terselesaiakan.
6.3.2   ANALISA CASH FLOW PROJECTION
Dari hasil perhitungan dalam cash flow projection dapat diketahui bahwa rencana usaha yang akan dilaksanakan dinilai feasible atau memungkinkan unuk dapat dilaksanakan oleh CV. Poetra Galoeh.
Sekalipun 120 hari pertama belum ada kenaikan yang terlalau signifikan namun pada hari-hari berikutnya menunjukan peningkatan. Sementara itu nilai tampak naik turun dalam skala angka yang menaik.
6.3.3   ANALISA RESENT WORTH
Internal Rate of Return (IRR)
Dapat diketahui bahwa nilai IRR atas proyek ini adalah 5%. Hal ini menunjukan bahwa proyek feasible (memungkinkan) untuk diljalankan oleh CV. Poetra Galoeh.
6.3.4   ANALISA PAYBACK PERIOD
Berdasarkan hasil perhitungan Payback Periode maka Payback Period diproyeksikan setelah proyek berjalan selama 1 tahun 8 bulan, sebagai mana terlampir.
6.3.5   ANALISA SENSITIVITAS
Berdasarkan nilai Iternal Rate of Return (IRR) tersebut, maka setelah dilakukan analisis sensitifitas diperoleh ratio IRR (lihat tabel di bawah ini) sebagai berikut :
No.
Uraian Perubahan
Ratio IRR
1.
Bila harga jual naik 5%
7%
2.
Bila harga jual turun 5%
2%
3.
Bila kapasitas produksi naik 10%
9%
4.
Bila kapasitas produksi turun 5%
3%
5.
Bila biaya produksi naik 5%
4%
6.
Bila biaya produksi turun 5%
8%
7.
Bila kapasitas produksi naik 5% dan biaya produksi turun 10%
10%
8
Bila kapasitas produksi turun 3% dan biaya produksi turun 3%
3%
Dengan variabel perubahan dalam persentase yang dikehendaki, maka didapatkan berbagai nilai (persentase) IRR yang memberikan gambaran bahwa IRR dapat lebih besar serta lebih kecil dari nilai IRR yang sesungguhnya, yaitu 5% dan IRR terkecil tidak menyentuh angka ratio 0%.
Dan dari hasil analisa sensitifitas tersebut, usaha yang direncanakan dapat diusuulkan untuk diterima.
6.4    BREAKDOWN ASPEK KEUANGAN
Breakdown (perincian) perhitungan aspek keuangan akan diuraikan dalam halaman berikutnya.
















BAB V
ASPEK DAMPAK SOSIAL DAN LINGKUNGAN

1.        Aspek Dampak Sosial
Dari segi sosial saya melihat ada beberapa dampak dari faktor usaha ayam kampung ini.
a.       Faktor Positif
-          Membuka peluang pekerjaan untuk warga sekitar,
-          Menambah stok kebutuhan konsumen dalam kebutuhan usaha dan kebutuhan sehari-hari,
-          Menjadikan wilayah sendiri yang bisa membuat suatu gebrakan di bidang usaha wiraswasta,
-          Membangun perekonomian daerah, yang dengan membentuk kesejahteraan bagi masyarakat sekitar,
-          Memberikan gambaran usaha yang mandiri dan progresif visioner bagi masyarakat sekitar,
-          Membangun citra wirausaha yang positif di daerah.
b.      Faktor Negatif
-          Kecemburuan sosial yang tinggi di lingkungan masyarakat, (dapat diatasi denngan pemenuhan kesejahteraan masyarakat sekitar)

2.        Aspek Dampak Lingkungan
a.       Dampak Positif
-          Kotoran ayam yang bisa dijadikan sumber pupuk organik untuk wilayah sekitar, yang mana masyaraknya notebene sebagi petani.
-          Dari bangkai ayamnya bisa digunakan untuk pakan ikan, sehingag tidak mencemari lingkungan,
-          Membuat olahan pupuk organik sendiri dengan bahan dari sumber ayam kampung
b.      Dampak Negatif
-          Kemungkinan besar terjadi pencemaran udara di sekitar kandang ayam, yaitu rasa bau yang menyengat dari kandang, (bisa diatasi dengan adanya pemebrsihan kandang secara rutin dan berkala).
-          Terjangkitnya penyakit yang ditularkan oleh penyakit ayam yang bisa berimbas pada manusia/ flu burung. (bisa diatasi oleh penyemprotan bakteri kandang dan pembersihan.




LAMPIRAN
1.         Copy Akta Notaris (Company Noctarial Act Number). ~ Dalam Proses
2.         Copy Surat Ijin Usaha Perusahaan – SIUP (Business License) ~ Dalam Proses
3.         Copy Tanda Daftar Perusahaan – TDP. ~ Dalam Proses
4.         Copy Nomor Pokok Wajib Pajak – NPWP (Tax Registration) ~ Dalam Proses
5.         Copy Surat Ijin Tempat Usaha – SITU. ~ Dalam Proses
6.         Dokumen perijinan lainnya. ~ Dalam Proses
7.         Neraca Perusahaan
8.         Reening Bank selama 3 (tiga) tahun atau 3 (tiga) bulan terakhir. ~ Dalam Proses
9.         Pajak selama 3 (tiga) tahun terakhir. ~ Dalam Proses
10.     Dokumen keuangan lainnya yang diperlukan.
11.     Copy Perjanjian Pembelian Produk Ayam Kampung  (Product Purchase Agreement)
12.     Standar Kualitas Ayam kampung.
13.     Denah tempat usaha.
14.     Foto lokasi usaha dan bahan baku (raw material)
15.     Foto produk Ayam Kampung yang siap dijual.
16.     Dokumen-dokumen lain yang mendukung penyusun Project Proposal.



 Lampiran








                                                                                                                                 



Comments